Monday, September 7, 2015

Malioboro menggelora

Jam di pergelangan tangan kananku menunjukkan angka 5, matahari sudah mulai bersiap pulang ke peraduannya. Dan aku, masih berdiri di tepi jalan raya Magelang - Jogya menunggu bus patas yang lewat. Meski aku agak pesimis akan mendapatkan apa yang aku harap. Sudah hampir 1 jam aku berdiri di depan mall Arthos, menunggu bus patas lewat, namun nihil. Sudah seminggu aku menginap di hotel mewah ini, ada beberapa tender yang harus aku menangkan untuk perusahaanku. Dan di penghujung minggu ini, aku berniat liburan ke Jogya, sekedar jalan jalan menikmati suasana malioboro dan sekitarnya.

Aku mayang, 27tahun, staff accounting di sebuah perusahaan kontraktor di Semarang. Tubuhku chubby, dengan tinggi 165cm dan bb 75kg, kulit sawo matang. Yang membuatku paling pede adalah payudaraku yang membusung, 38b, seringkali menjadi jarahan mata nakal para eksekutifku atau klien. Jujur sih, aku senang saat mata mereka mengerling nakal melihat ke dadaku, kubayangkan apa yang mereka bayangkan pada tubuhku. Hmmmhhh..... Membayangkannya saja membuatku libidoku naik. Hampir saja beberapa kali aku kehilangan normaku dan menerima ajakan indehoy mereka. Namun aku masih berusaha menjaga profesionalitasku dalam pekerjaan.

Hari ini pun aku menolak ajakan mereka untuk pulang ke Semarang bersama mobil mereka. Hanya berduaan dalam mobil? Apa yang bisa terjadi? Ngeri aku bayanginnya kalau akhirnya aku dibelokkan ke hotel oleh salah satu rekan atau bosku itu. Bukan... bukan karena aku gak doyan penis, tapi resiko yang harus aku tanggung jika berita aku "bisa dipake" menyebar ke seluruh karyawan, habislah mukaku menanggung malu.

Dan... akhirnya, terdamparlah aku disini. Di tepi jalan yang penuh debu, menunggu bus yang tak kunjung tiba. Bosan menunggu, aku berjalan ke arah minimarket, niat hati ingin membeli minuman sekedar pendingin tenggorokan. Kering kali rasanya aku tak minum satu jam an ini. Kutarik koper berodaku ke arah minimarket, tak jauh dari tempatku menunggu bus. Kira2 15 meter sebelum sampai minimarket, perhatianku tertuju pada seorang lelaki dengan bodi proporsional, tinggi 170an cm, bb sekitar 65kg, kulit pucat dan memakai jaket kulit. Dia sedang memakai sarung tangan di samping sepeda motor vixion merahnya. Kuperhatikan ada dua helm yang bersandar di motornya. Entah helm siapa.

Tak kupedulikan yang lain, aku iseng menghampirinya.

"Maaf mas, hendak menuju kemana? apakah sendirian?" tanyaku to the poin. Jujur aku paling susah basa basi.

"Ke Jogya mbak. Saya sendirian. Ada apa ya?" jawabnya seraya bertanya padaku. Tidak dihentikan kegiatannya merapikan sarung tangannya.

"Saya kemalaman mas, boleh nebeng sampai Jogya gak mas? Dari tadi gak ada bus patas lewat.." ucapku dengan jujur. Mata lelaki itu membelalak sedikit, seolah tak percaya
.

"saya naik motor lo mbak.. gakpapa? Jogya dari sini masih sekitar satu jam an lagi. Mbak yakin?" tanyanya memastikan keinginanku untuk berboncengan dengannya.
aku mengangguk keras, menandakan keyakinanku untuk membonceng.

"saya mau jalan jalan ke malioboro mas, tadinya mau naik patas, tapi ternyata gak datang2. Gak mau saya naik bus ekonomi, trauma saya mas. Pernah kecopetan" jawabku menyakinkannya.

"Ya sudah.... mbak bisa pakai helm adik saya, kebetulan saya baru saja menjenguk adik saya di ponpes, saya kira adik saya mau ikut pulang sama saya ke Jogya, ternyata tidak boleh pulang sana ustadzahnya" katanya sambil menyodorkan helm putih pink kepadaku.
Aku tersenyum menyadari bahwa dia bersedia memboncengku sampai jogya. Dan akhirnya aku terbebas dari rasa menunggu bus patas yang entah kapan datangnya. Selepas dia memakai masker dan helm, dia menaruh koperku di depannya, dan menungguku selesai memakai helmku. Tiba tiba dia menjulurkan tangan kanannya, mengajakku bersalaman.

"Arya" katanya seraya menjabat tanganku. Dia menggenggam tanganku erat, terlihat kokoh dengan pergelangan tangan yang kuat. Aku menjadi penasaran apakah otot penisnya sekuat otot tangannya?
Otakmu mulai mesum... 

"Mayang" jawabku sambil tersenyum sembari mencoba menggodanya. Kuamati badannya sangat atletis, minimal cowok ini rajin berolahraga. Otot dadanya terbentuk sempurna. Wajah orientalnya telah menawan hatiku sejak pertama kali aku menatapnya.

Aku beranjak duduk di belakangnya. Aku memakai celana bahan dengan setelah kemeja lengan panjang berwarna ungu muda yang sangat pas membalut tubuhku. Untungnya aku memakai tas kerja yang bisa dijadikan tas punggung, sehingga aku bisa dengan leluasa memeluk tubuhnya. Eh, duduk memboncengnya.
..

Sengaja aku rapatkan posisi tubuhku dengan tubuhnya. Kusandarkan payudaraku ke punggungnya, kedua pahaku menempel sempurna di kedua paha belakangnya. Kupegang kedua sisi pinggangnya. Sedikit berlemak, tapi hal itu membuatku menjadi horny.

Arya mulai memacu vixionnya ke jalanan. Aku menikmati perjalanan kami dengan semakin mendekatkan badanku ke badannya. Kudekatkan mekiku ke pantatnya, meski sebenarnya aku berharap itu bagian depannya. Ada jagoannya yang membuatku penasaran.

"Mau dianter ke mana May?" tanyanya tanpa embel embel mbak lagi.

"Ke Ibis Malioboro saja mas. Saya dah booking kamar disana" ucapku. Karena laju kendaraan yang kencang, kami harus mendekatkan bibir dan telinga kami agar jelas terdengar. Dan hal itu membuat payudaraku semakin 'menekan' di punggungnya. Duh gemesnya, pengen banget kucium itu pipi, jarak bibirku dengan pipinya kadang hanya 5cm saja saat kami bicara. Duhh... bisa gak tahan kalao kayak gini caranya.

"Gak ada saudara atau teman di Jogya?" tanyanya lagi dan membuat mekiku semakin menegang karena tekanan punggungnya di payudaraku, nafasku semakin memburu. Entah dia menyadarinya atau tidak.

"Ada sih. Tapi aku belum sempat menghubungi mereka. besok saja kalau sudah fix mau main" ucapku
.

Perjalanan selanjutnya kami lebih banyak diam, aku mengeratkan pegangan tanganku diperutnya yang rata, menikmati payudaraku yang menempel di punggungnya dan mekiku yang makin menegang. Terkadang aku usil mengelus perutnya, atau menyandarkan pipiku di punggungnya. Jaket kulitnya menjadi penghalang hangatnya tubuh kami berdua.

Dari dekapanku, aku merasakan hal yang sama terjadi padanya. Nafasnya mulai naik turun memburu.. aku hampir tak bisa menahan tanganku untuk mengelus penisnya. Memastikan apakah penisnya berdiri atau tidak.

Aku masih menahan diri untuk tidak mengelus penisnya. Meski mekiku sudah tegang terasa. Apa yang ada dalam pikirannya kalau aku langsung meremas penisnya di jalanan seperti ini? Kutahan tahankan tanganku agar tak berbuat yang aneh aneh.
Meski sejujurnya aku sudah gak tahan pengen ngeremes.

Perjalanan satu jam menjadi tak terasa saat tubuh kami saling memburu.
Sebentar lagi kami sampai di Ibis hotel. Langit senja sudah semakin merah, sekelompok awan gelap mulai mengikuti kami. Sepanjang perjalanan memasuki kota aku hanya memohon semoga hujan berbaik hati menunggu sampai aku sampai di tujuan baru turun menyapa bumi.

Doaku ternyata hanya sampai pada stasiun Tugu, karena selepas itu, hujan mulai pelan2 menyapa kami. Rintik rintik hujan satu demi satu hinggap di kemeja ungu mudaku. Dingin mulai merayap ke ragaku. Aku semakin erat memeluk tubuh kekar di depanku, sementara dirinya fokus mempercepat laju motor agar kami segera sampai di Ibis. Sebentar lagi... ya.. sebentar lagi kami sampai. Gedungnya sudah terlihat di ujung mataku.

Biarawati Cantik Nan Eksotik

Perkenalkan namaku Roy dan aku tinggal di sebuah kota kecamatan, tepatnya di daerah Karangmojo Gunungkidul Yogyakarta. Kisah yang akan kubagikan ini sebenarnya terjadi beberapa tahun silam, saat aku masih sekolah di bangku SLTP dan usiaku mungkin sekitar lebih kurang lima belas tahun kala itu. 

Orangtuaku tinggal di luar pulau karena Papaku bekerja di sebuah perusahaan pertambangan milik asing disana, sedangkan aku sejak kecil memang sengaja dititipkan pada kakek-nenekku di kampung dan entah apa alasannya, yang jelas bukan karena mereka tidak mampu mengurusku atau soal materi. Apa yang diberikan oleh kedua orangtuaku meski memang melalui kakek-nenek justru berlebih jika dibandingkan dengan teman-teman sebayaku. Mulai dari pakaian, mainan, uang saku, dan masih banyak lagi yang secara tidak langsung membuat aku jadi anak yang ke-pede-an bahkan cenderung suka cari perhatian dan arogan. Meski begitu prestasiku dalam bidang pendidikan bisa dibilang cukup baik, kenyataannya aku bisa diterima di salah satu SLTP Negri favorit di daerahku. 

Kebetulan Kakek-nenekku menikah beda agama. Kakekku yang berasal dari desa adalah seorang muslim yang taat, sedangkan nenekku yang masih keturunan ningrat-belanda memeluk agama Katolik. Meski keduanya sayang kepadaku tapi aku justru lebih dekat dengan kakek, dan yang jadi masalah adalah pengetahuan agamaku yang kurang karena aku beragama katolik sesuai dengan papa-mamaku. Tak sekalipun kakek mengajarkan tentang agamanya meskipun kami begitu dekat, sedangkan jika aku harus dekat dan belajar dengan nenek .... hehehe yang ada aku selalu diomelin dan dituntut untuk menjadi anak yang baik dalam segi apapun degan cara nenek yang otoriter bagai kompeni itu. Karna itulah aku selalu berlindung dibalik kakek, atau jika keadaan terdesak dan kakek pun merasa perlu menyerahkan aku pada nenek, aku lebih memilih kabur hingga kakek dan nenekku bahkan sampai bingung bagaimana aku bisa mendapatkan pemahaman agama yang baik, karena dalam semua mata pelajaran di sekolah, pelajaran agama adalah mata pelajaran yang paling jeblok dalam raporku. Suster Paulista guru agamaku terkadang hampir habis kesabaranya saat mengajarku dalam kelas. Pengetahuan agama yang kurang ditambah sikap dan perilaku yang badung membuat beliau bahkan pernah datang ke rumah dan membahas soal kenakalan dan prestasiku yang jeblok di sekolah.

Suster Paulista Op. beliau adalah seorang suster yang bertugas di paroki dan juga mengajar agama Katolik di sekolahku. Selain bekal pengetahuan agama yang kurang dari rumah, sebenarnya beliau Suster Paulista ini adalah salah faktor yang membuat nilaiku justru jeblok di sekolah. Bagaimana tidak, setiap beliau megajar bukan soal pelajaran yang aku serap, aku justru sering melamun soal beliau. Jika boleh aku gambarkan disini, beliau berasal dari NTT, dengan cirikhas orang timur berkulit sawo matang, posturnya bisa dibilang proporsional setidaknya menurutku, tubuhnya ramping meski tidak terlalu tinggi, lekuknya samar tercetak dibalik baju keagamaan dengan ukuran pas badan, belum lagi kedua matanya yang bening namun tajam yang kadang menemaniku dalam khayalan saat beronani baik saat di rumah atau di toilet sekolah. Terlebih jika beliau sedang menulis di papan tulis, tangan kanannya yang terangkat karena papan tulis yang terlalu tinggi dan tangan kirinnya yang memegang buku panduan membuatku seolah ingin memeluknya dari belakang, meremas toketnya sambil menggesek-gesekkan kontolku di pantatnya yang kencang. kadang sesekali kupejamkan mata ketika sedang menikmatinya, hingga pada suatu hari ...
"PLAKKKKK..."
Mataku terbelalak ketika Suster Paulista sudah ada di hadapanku sambil memegang penggaris kayu besar yang tadi dipukulkannya dei mejaku.
"Hei kamu Roy, coba kamu jelaskan tentang Nabi Musa seperti yang suster ajarkan barusan? " Suster Paulista menatapku tajam seketika itu pula aku tertunduk, meski dengan diselingi gerakan menggaruk-garuk kepalaku sendiri.
"Anu suster ... anu ..." 
"matih aku ...." gumamku dalam hati. Dengan jumlah murid yang sedikit dan suasana yang begitu hening saat Suster menantikan jawabanku, membuatku tak berkutik untuk meminta bantuan bisikan dari teman di dalam kelas agama.
Beberapa menit aku tak kunjung mengeluarkan kata-kata untuk menjelaskan kembali pelajaran yang baru saja diajarkan Suster Paulista.
"Sudah sana, kamu keluar dan tunggu di luar kelas".
Dengan langkah gontai dan tanpa pembelaan akupun berjalan keluar dan duduk di depan pintu ruang agama Katolik. Bel pelajara berbunyi, aku masih tetap berada di depan pintu ruang agama dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kudengan doapenutup pelajaran agama sudah selesai dan tak berapa saat suster paulista keluar ruangan. Beliat menatapku dari kejauhan, namun saat melintasiku suster berlalu dengan sikap dingin tanpa menyapaku.
"Suster ... suster ..." aku berjalan mengejar beliau, namun Suster Paulista tetap tak bergeming hingga saat aku beranikan diri untuk menyenuh lengan tangan kanannya. Seketika Suster Paulista menghentikan langkahnya di lorong sekolah.
"Suster, Roy minta maaf .... "
"Iya ..." Suster Paulista hanya mengeluarkan sepatah kata dengan raut wajah yang dingin dan kembali lagi melanjutkan langkahnya.
"Maafin Roy suster ... ?" aku masih terus mengejar dengan kata-kataku.
"Roy janji akan bersikap baik di kelas dan memperhatikan pelajaran, tapi suster maafin Roy ya ...? Kalau perlu berikan hukuman atas kesalahan Roy .... " Kali ini aku berdiri menghadang Suster Paulista hingga beliau berhenti dan kedua bola matanya yang indah menatapku kembali dengan tajam. 
"Baik jika itu permintaanmu, suster minta kamu datang ke Susteran jam 4 sore dan sekarang kembalilah ke kelasmu."
"Terima kasih suster..." aku menundukkan kepala dan menggeser tubuhku untuk membirikan jalan."

Jam sudah menunjukkan jam 3 sore, dan aku bergegas mandi, Setelah berpakaian rapi akupun menstater sedan Toy*ta hatchback yang dititipkan papaku di rumah kakek sepaket dengan aku. Meski belum cukup umur dan papaku juga jauh di luar pulau, tapi aku sudah terbilang mahir membawa mobil berkat Om Agus adik bungsu dari mamaku yang masih kuliah dan tinggal di rumah kakek dan nenek. 
skip skip skip
Ahkirnya aku pun sampai di depan gerbang susteran. Setelah mobil kutepikan aku mngetuk intu pagar besi yang tertutup rapat dan tak lama keluarlah Suster Paulista.
"Eh kamu Roy, silahkan masuk ,"
"Dianter siapa Roy.. ?" Suster Paulista bertanya sambil bahasa tubuhnya seolah menanyakan siapa yang menungguku di dalam mobil.
"Saya sendirian suster..."
"Kamu sendiriaan?? Setir mobil itu...???" diikuti dengan tarikan nafas panjang dan gelengan kepala.
"Iya suster.... " jawabku singkat dengan perasaan sedikit bangga namun tetap menunjukan mimik cemas akan reaksi suster paulista selanjutnya.
"Memang orang tua kamu mengijinkan?"
"Papa dan mama di luar pulau suster, Roy dari kecil .... bla ... bla ... " ahkirnya sore itu suster Paulista tahu tentang keadaanku yang sebenarnya, bahkan raut wajahnya yang biasanya datar pun kulihat berubah menunjukan rasa trenyuh dengan keadaanku.
Kami berdua sudah duduk di sebuah bangku panjang ruang tamu susteran sambil aku menceritakan kondisi kehidupanku, dan perlahan suasana semakin mencair, apalagi kondisi susteran saat itu sedang sepi, hanya ada aku dan suster Paulista. 
Belakangan aku tahu juga bahwa tempat itu hanya ditinggali oleh 3 orang suster diantaranya adalah suster Dominika, suster Gema dan Suster Paulista, mereka punya kesibukannya masing-masing. Suster Dominika yang seorang Kepala Sekolah SMA yayasan Katolik lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah selain melakukan pelayanan gereja atau berkunjung ke rumah-rumah umat di lingkungan paroki. Suster Gema yang sudah berumur pun tak kalah sibuk memberikan pelayanan gereja, pelayanan umat, dan sering melakukan ziarah ke tempat-tempat yang disucikan oleh umat Katolik baik di dalam maupun luar kota karena diminta umat untuk menjadi pembimbing rohani. Sedangkan suster Paulista yang lebih banyak tinggal di susteran bisa disebut masih baru di lingkungan paroki kami. Tugas pokok suster paulista selain melayani gereja adalah sebagai guru agama di sekolahku. Yah, selain belum lama ditugaskan di paroki ini suster Paulista juga tidak memiliki sepeda motor seperti Suster Dominika dalam beraktifitas,nhanya kegiatan yang benar dirasa perlu saja yang bisa dihadiri olehnya sehingga praktis beliau lebih banyak tinggal sendirian di susteran.
"Kasihan kamu Roy ... kamu pasti sangat merindukan orangtuamu ya ...?" suster Paulista mendekatkan dirinya dengan posisi tubuh yang mengarah padaku sambil mengusapkan tangannya di rambutku.
"eh... oh, iya suster ...." aku menjawab sekenanya karena belaian tangan suster di kepalaku saat itu membuat tubuhku tiba-tiba merinding seperti tersengat listrik meski hanya hitungan detik.
Aku refleks melihat wajah suster paulista yang saat itu duduk disampingku, ingin rasanya kudekatkan wajahku dan mencium bibir tipisnya, arrrghhh ....
Suster Paulista kemudian menarik tangannya dari kepalaku dan merubah posisi duduknya sambil menghela nafas panjang. Kepalanya menengadah keatas cukup lama dan saat itu pula kulihat matanya berkaca-kaca.
"suster kenapa? apa perkataan Roy ada yang salah...? 
"Enggak kok Roy, gak ada yang salah ... " Suster Paulista menjawab sambil menyeka air mata yang menetes di sudut matanya dengan jari.
"Suster hanya .... " suster Paulista menghentikan kata-katanya sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Roy minta maaf kalau Roy salah, maaf sudah bikin suster sedih dengan cerita Roy..."
"Enggak Roy, kamu gak salah .... Suster sedih karena teringat orang tua di NTT .." "Saat ini Ibu suster sedang sakit parah dan dirawat di rumah sakit ...."
"owh ... maaf suster, Roy gak tahu ..."
"Suster ingin sekali bisa pulang tapi suster belum bisa ...." 
"Sabar ya suster ...." entah kenapa aku tiba-tiba berani meraih dan menggenggam tangan suster paulista.
"Yang penting sekarang kita doakan ibu suster agar kondisinya semakin membaik, kita doakan juga saudara-saudara disana agar senantiasa diberikan ketabahan dan kekuatan dalam merawat ibu suster....". Ya .... sekali lagi anehnya aku bisa dengan luwes melontarkan kata-kata untuk menenangkan hati suster Paulista saat itu.
Seketika itu pula suster Paulista melepaskan tangannya dari genggamanku dan memelukku dari samping dengan erat.
"Terima kasih Roy .... kamu baik sekali .... selama ini suster sudah salah menilaimu ..." 
W.O.W ... Jantungku serasa berhenti berdetak ketika payudara suster Paulista menempel di lenganku, meski memang saat itu masih terhalang oleh baju yang kami kenakan. Rasa empati yang ada dalam diriku berubah drastis menjadi nafsu yang berkobar saat gundukan kenyal yang samar tergambar dalam otakku, tonjolan bulat berukuran sedang namun padat dan kencang itu lembut menekan lengan kiriku. Dalam hitungan detik suster Paulista sudah melepaskan pelukannya saat aku masih berusaha untuk menikmatinya.
"Maaf Roy ... " suster paulista terbata-bata dan kembali memperbaiki posisi duduknya.
"Gakpapa suster ... " meski sebenarnya aku sanga bersedia memberikan tubuhku sebagai tempat pelampiasan emosinya ... huft ...
Kami berdua sama-sama terdiam, entah apa yang ada di pikiran suster saat itu namun dalam benakku hanyalah kelembutan payudaranya yang masih saja terngiang.
"Sebaiknya sekarang kamu pulang Roy ..." suster paulista memulai kembali pembiciraaan kami.
"Lalu hukuman atas keslahan Roy di kelas ...?"
"hukuman? ... emmm ... tidak ada hukuman buat kamu Roy ... suster hanya minta agar kamu lebih konsentrasi dan bersungguh-sungguh dalam belajar ... dan sekarang suster ingin berdoa sendiri untuk kesembuhan ibu ..."
"Baik suster, kalau begitu Roy pamit ..."
"Terima kasih Roy, berhati-hatilah di jalan ..."
Aku menganggukkan kepala dan membalikan badan menuju pintu keluar..
"Roy ... " suster paulista berjalan mengikutiku keluar 
"Tolong jangan ceritakan kejadian tadi pada siapapun."
"Dan satu lagi, kapanpun kamu mau, kamu boleh datang kesini....”
"Baik suster, Roy pamit ..."
Semenjak saat itu hubunganku dengan suster paulista semakin membaik, di kemudian hari saat aku berpamitan pada kakek nenek untuk berkunjung ke susteran, justru nenek acapkali menitipkan makanan atau lauk pauk untuk para suster disana. Memang hal ini tak lazim jika dilakukan oleh remaja khususnya cowok seumuranku, Aku tak peduli, berbagai alasan kugunakan agar aku bisa selalu dekat dengan suster kesayanganku itu. Mulai dari mendapatkan hukuman, pendalaman imanku, atau alasan memberikan pelayanan dan pengabdian pada gereja, (gereja dalam arti luas). Begitu pula dengan suster Paulista, aku yakin beliau pasti melakukan hal yang samai pada suster lainya, lingkungan atau umat yang mungkin melihatku mondar-mandir di susteran itu. Memang tak sering dan tak banyak yang bisa kulakukan disana, misalnya seperti membersihkan halaman susteran, menyapu dan mengepel lantai atau berkonsultasi mengenai masalah keagamaan dan semua itu kulakukan dengan tanpa terpaksa. 
Hubungan yang aneh … tapi entah kenapa masih saja kujalani dan begitupun kurasakan dengan suster Paulista. Hubungan kami tak lagi seperti seorang murid kepada gurunya atau seorang rohaniawan dengan umatnya. Kami sudah seperti sahabat, bahkan seperti sepesang remaja yang menyimpan perasaan satu sama lain, untukku memang hal ini berlaku namun bagi suster paulista? Apakah perasaanku ini juga sama dirasakannya?
Hingga pada suatu waktu;
“Roy, anterin suster ke goa tritis yuk …?
“hmmm … boleh suster, memang ada acara apa disana..?
“tidak ada acara khusus, suster hanya ingin ziarah dan melakukan doa pribadi saja …”
Hari minggu ahkirnya kami sepakati untuk berangkat ziarah. Rencananya memang sepulang dari misa di gereja langsung bertolak ke tempat ziarah, namun karena awal musim hujan yang membuat cuaca jadi kurang bisa ditenukan … Terkadang hujan tiba-tiba datang dan berhenti tanpa bisa dikehendaki, sama seperti pada hari itu… Sedari pagi hujan mengguyur kota kami, meskipun tidak terlalu lebat namun berlangsung cukup lama. Kami bahkan sudah berencana membatalkan tujuan saat itu, sekali lagi entah kenapa sepertinya rasa yang menggebu membuat aku dan suster paulista tetap berangkat kesana saat hujan mulai reda.
Toyota Starlet yang kukendarai sudah sampai di area parkir goa tritis. Meski bigeti perjalanan belum selesai karena memang untuk mencapai tempat itu harus dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui jalan setapak terjal dan naik turun perbukitan.
DI perjalanan, aku bak seorang pangeran yang sedang menikmati keindahan alam bersama seorang putri yang cantik jelita saat itu. Betapa tidak, nanyian merdu suara alam seolah mengiringi perjalanan kami melintasi jalan bebatuan yang terjal dan licin di tempat itu. Sesekali aku dengan sigap meraih tangan suster paulista yang kesulitan melangkahkan kaki di bebatuan terjal atau tanjakan curam, bahkan kami sempat beberapa kali terbawa suasana hingga lupa melepaskan tangan. Nafsu birahi yang biasanya memuncak saat membayangkan suster paulista menemaniku beronani, kini ditambahi dengan perasaan aneh yang belum pernah aku rasakan. Detak jantung yang bedegup semakin kencang dan nafasku pun tak beraturan … Apakah ini yang dinamakan dengan cinta? 
Sampai di goa tritis kulihat masih ada beberapa pengunjung yang melakukan doa disana. Tak ketinggalan kamipun berdoa bersama, meskipun kemudian suster paulista mempersilahkan aku untuk menunggunya sebentar karena beliau ingin memanjatkan doa-doa khususnya secara pribadi.
Aku berjalan-jalan mengitari mulut goa sambil menyalakan sebatang rokok sambil menunggu suster paulista selesai dengan doanya. Suster paulista memang tahu kalau aku merokok namun beliau tidak pernah lagi memarahiku, hanya terkadang menasehatiku akan bahaya rokok, atau soal uang pembelian rokok yang lebih baik kutabung . Hubungan kami benar-benar sudah sampai pada titik dimana kami bisa menerima kekurangan masing-masing.
Hari sudah semakin sore dan rintik hujan sudah mulai turun, aku bergegas memperingatkan suster Paulista untuk segera menyelesaikan doaya da turun dari bukit. Hanya kami berdua yang basih ada di dalam goa dan kami putuskan untuk segera pulang. Hujan yang semakin deras memaksa kami harus berdekapan dibawah payung lipat yang sudah disiapkan oleh suster Paulista. Seharusnya aku bisa menikmati ini, namun hujan yang semakin deras memaksaku untuk lebih berkonsentrasi dengan jalanan yang tidak bersahabat hingga kuputuskan untuk berteduh di sebuah aula tak jauh dari goa itu. Suasana yang sunyi ditambah hembusan angin yang kencang menerpa tubuh kami yang sedikit basah terkena hujan, membuat kami berdiri berhimpitan di teras aula itu.
“Sebaiknya kita berteduh sambil menunggu hujan mereda …” aku mencoba memcah keheningan saat itu.
“Iya Roy …brrr ….” Suster paulista mejawab dengan menggigil dengan tangan yang disilangka seolah menciba menghangatkan tubuhnya sendiri.
Secara refleks kutelusupkan tangan kananku diantara punggung suster paulista dengan dinding aula yang dingin. Kugenggam tangan kanannya dan kuelus perlahan sembari berkata …
“Maaf suster, Roya gak tega melihat suster kedinginan….”
Suster paulista tidak merespon kata-kataku, hanya kulihat mataya mengerling kepadaku. Suster paulista hanya menatap kedepan, sesekali meringkuk menundukkan kepala menaha dingin yang menerpa kami sore itu. Ingin rasanya kudekatkan wajahku dan kukecup pipinya, namun saat itu aku masih ragu-ragu. Hingga aku sudah merasa tak kuasa mengungkapkan peasaanku kepadanya… “
“Suster … Roy sayang sama suster ….”
Suster paulista memalingkan wajahnya kearahku, namun beliau hanya diam saat bertatapan dalam jarak yang sangat dekat.
“Aku juga sayang sama Roy ….”. Selang beberapa saat suster paulista membuka bibirnya, meski saat itu ia menundukan kepalanya saat mengungkapkan rasa sayangnya kepadaku.
Bagai melayang diudara saat itu, entah hujan atau gondoruwo penunggu bukit inipun seolah akan mampu aku hadapi nanti, yang penting saat ini aku bisa berlama-lama dengan kekasih hatiku ….
“Terima kasih suster …” aku mengusap lengan kanannya dan sesekali kuremas lembut.
Kami berdua larut dalam suasa hening, jantungku berdesir seolah sedang bermain trampolin di dalam tubuhku. Sesekali kami salig bertatapan kemudian memalingkan muka. Hingga kuberanikan diri mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya. Suser paulista tak menolak, namun ia hanya menundukkan kepalanya. Aku semakin berani dan kubuah posisiku hingga kami saling berhadapan. Suster paulista menatapku dan kami kembali saling berciuman. Kali ini suster paulista mencoba membalas ciuamku, bibir kami saling berpagutan seolah ingin saling menunjukan kedalaman cinta kami satu-sama lain. Aku yang memang sudah terbiasa bermain cinta dengan pacar-pacarku, ditambah dengan referensi film biru yang sering kutonton, membuatku tak puas dengan hal itu. Kontolku yang sudah tegang saat kami saling berpelukan dibawah payung, menjadi semakin besar dan mengeras mendesak suster paulista. Kuusapkan tanganku di punggungnya sambil kami tetap saling berpagutan, sesekali kuturunka hingga mengenai pantatnya yang memang benar kencang seperti bayanganku selama ini. Sampai hinga saat aku hendak menyingkapka roknya, suster paulista melepaskan ciumannya dan kemudian mendorongku agar menjauh.
“Jangan Roy … kita sudah terlalu jauh …. Dan aku rasa kita sudah sangat salah dan berdosa…”
Emosiku bergejolak saat itu, akal sehatku justru semakin hilang saat kudengar kata-kata suster paulista itu.
“Tapi suster … Roy benar-benar sayang sama suster…”
“aku tahu, dan aku juga sayang sama Roy … tapi …” 
Aku berjalan mendekat dan kupeluk suster Paulista ….
“Ijinka Roy menunjukan rasa sayang Roy, setidaknya untuk sekali ini saja …” entah setan apa yang merasukiku sehingga kata-kata itu tiba-tiba kubisikan di telinga suster Paulista.
Mata kami kembali beradu seketika bibir kami pun juga kembali berpagutan.
Kutarik tangan kanan suster paulista yang masih terasa ragu menelusup kedalam celana jeansku, masih terasa susah karena kami juga masih menikmati lidah kami yang juga saling beradu. Dengan sigap kubuka kancing dan retsliting celanaku hingga kontolku pun terbebas mengacung meski masih dalam gengaman suster paulista. Kubimbing tangannya untuk mengocok kontolku yang besar dan panjang itu.
Aku masih berkonsentrasi dengan bibirnya, sesekali kuremas payudaranya dari luar bajunya. Hingga saat kocokan tangannya kurasakan semakin berirama, kutekan kedua bahunya kebawah. Suster paulista sepertinya sudah sedikit paham dengan maksudku. Ia sudah dalam posisi berlutut dan dihadapannya sudah mengacung kontolku yang tegak mengacung, kepalanya menengadah dan kedoa bola matanya menatapku dalam-dalam.
Tanpa kata-kata seolah Ia tahu apa yang harus dikerjakan saat kugerakkan pantatku perlahan hingga ujung kontolku menyentuh bibirnya. Bibirnya yang tipis perlahan terbuka seolah mempersilahkan kontolku merasakan kehangatan mulutnya. Perlahan kepalanya mulai bergerak maju-mundur dengan penuh perasaan, 
“plop…flop… slrph…’’’
“terus suster … terus sayang …” aku meracau sekenanya sementara sesekali kulihat suster kesayanganku sudah mulai mahir memijaat kontol besarku dengan mulutnya .
“Pelan sayang …” aku bahkan memintanya untuk mengulum penisku perlahan, karena saat itu aku merasa akan segera mencapai puncaknya. 
“Crot … Crot …Crot … Cret …”
“Argh ..hueks … aaaahhhh ….” suster paulista terkejut dan seketka melepaskan kontolku keluar dari mulutnya.
Spermaku pun berjauhan saat ia membuka mulutnya yang kutembakan beberapa kali bahkan saat ia mencoba melepaskan kontolku justru tembakan yang tersisa mengenai pipinya.
“Roy … kamu jahat …”
Aku mendekap tubuh kekasihku itu dan kukecup keningnya, kamipun kembali berpelukan sambil menunggu hujan reda di tengah hutan itu.

Seorang Guru Agama Pemuasku

Semula aku tidak percaya telah berbuat mesum dengan seseorang yang sangat aku hormati, dia adalah Mbak Wulan (28 tahun) seorang guru agama di sebuah SMP negeri di Kota Yogyakarta. Aku mengenalnya karena suaminya yang bernama Susilo (40 tahun) sering mengisi pulsa di counter HP milikku. Seminggu sekali dia ketempatku, kadang sendiri kadang juga berdua dengan istrinya.


Karena sudah kenal baik aku sering mampir kerumahnya saat pulang dari toko, kebetulan rumahnya searah dengan tempat kosku. Oh ya namaku adalah Anton usiaku 22 tahun aku asal dari Surabaya. Singkat cerita kami sudah akrab, mereka berdua sebenarnya keluarga yang sempurna menurutku, Mas Susilo bekerja sebagai teknisi listrik PLN dan mereka sudah memiliki 2 orang anak yang berusia 12 dan 8 tahun.
Terus terang saat pertama bertemu dengan Mbak Wulan aku sudah sangat kagum, dia pintar, cantik dan sholehah karena selalu berjilbab rapi. Selain itu dia juga taat pada suami dan pandai mendidik anaknya. Namun semua kekagumanku itu tiba-tiba berubah saat aku tahu kalau dia punya Pria Idaman Lain. Hal ini ku ketahui tanpa sengaja ketika aku melihat Mbak Wulan berboncengan dengan seorang lelaki di sebuah objek wisata di Kabupaten Magelang, padahal waktu itu masih jam sekolah dan seharusnya dia masih mengajar.

Akupun terus mengikutinya dan mereka berdua berhenti di tempat yang sepi di sebuah warung yang tak di pakai lagi. Dengan mengendap-endap aku merekam aksi mereka berdua yang memadu kasih di tempat sepi. Walaupun mereka hanya sekedar berpelukan dan berciuman namun ini bisa jadi bukti yang kuat atas perselingkuhan mereka.

Pada keesokan harinya aku berniat memberitahukan perselingkuhan ini pada Mas Susilo, namun saat aku datang kerumahnya aku cuma bertemu dengan Mbak Wulan.

Entah setan mana yang menghasutku, tiba-tiba aku ingin memanfaatkan ini untuk berbuat sesuatu pada Mbak Wulan ketika aku diberitahu bahwa Mas Susilo sedang pergi mengunjungi Ibunya di Purwokerto beserta dua anaknya. Akhirnya akupun menjelaskan tentang rekaman video itu sambil mengancam Mbak Wulan akan mengirimkan rekaman ini pada suaminya. Dia sangat terkejut dengan pernyataanku yang mengetahui dengan detail perselingkuhannya dan akhirnya dengan menangis diapun memohon padaku untuk menghapus video itu dan sebagai gantinya dia berjanji akan memberi imbalan apapun yang aku inginkan.

Akhirnya Mbak Wulan masuk perangkapku, dengan terus terang akupun meminta imbalan pertamaku yaitu mengajaknya mandi bersama. Dia langsung menolaknya dan menawarkan uang sebagai gantinya, namun aku tetap pada pendirianku sambil menyatakan bahwa aku tak butuh uang. Setelah sedikit bujukan akhirnya diapun mau menerima permintaanku dan aku segera menuju kamar mandi, sedangkan Mbak Wulan terlebih dulu mengambil handuk di kamarnya.

Hal ini sengaja kulakukan agar aku bisa meletakkan HPku di tempat yang aman untuk bisa merekam aksi kami tanpa diketahui oleh Mbak Wulan. Sesaat kemudian diapun datang hanya dengan berlilitkan handuk, karena semua pakaian dan jilbabnya sudah di lepas di dalam kamar. akupun segera melepas pakaianku hingga bugil. Dia terkejut melihat torpedoku yang berdiri tegak karena terangsang dan segera kuraih tangannya lalu kuajak masuk kekamar mandi. Dia hanya diam saja sambil merunduk malu dan kesal pada perbuatanku, tapi aku tak peduli segera saja kutarik handuknya dan kamipun sama-sama bugil.

Aku sempat tertegun melihat tubuh Mbak Wulan yang sangat seksi, kulitnya yang putih mulus sangat kontras dengan warna rambutnya yang hitam panjang tergerai sampai punggung. Setelah itu kamipun mandi berdua dengan menggunakan shower sambil menikmati guyuran air aku mulai mencumbui Mbak wulan, awalnya dia menolak namun dengan sedikit ancaman diapun menurut juga.
Dengan leluasa aku memainkan organ intimnya, payudaranya yang montok dan berukuran 34B itu menjadi santapan empuk bagi bibir dan lidahku. Selain itu kedua telapak tanganku juga secara bergantian bergerilya di sekitar vagina dan pantatnya yang bahenol. Awalnya Mbak Wulan selalu berusaha menghindar saat aku memasukkan dan memainkan jariku ke lubang vegy miliknya namun akhirnya dia pasrah juga, mungkin karena sudah terangsang.
Setelah beberapa lama perkiaanku ternyata benar, Mbak wulan mulai mendesah karena birahi dan akhirnya dia orgasme. Tubuhnya meliuk-liuk dan sesekali mengejang sambil mulutnya terus merintih. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, saat dia lengah segera kuposisikan tubuhnya sedikit menungging dan kupeluk dari belakang, dia menurut saja dan tak tahu kalau sebentar lagi akan kuentoti. Aku terus memainkan jariku di lubang vegy miliknya dan pada saat yang tepat langsung kuganti dengan kontolku yang telah berdiri tegak Blezz…. Slepp kontolku menancap sempurna.

Mbak Wulan langsung berontak dan berusaha mencabut kontolku dari vaginanya, namun hal itu sia-sia saja karena aku sudah merengkuhnya dengan sepenuh tenaga sehingga perlawanannya tak berguna. Dengan leluasa aku mulai mnggoyangkan pantatku maju mundur dengan irama pelan agar tidak lepas lalu diapun mulai rileks dan tak berontak lagi, mungkin dia mulai menikmati goyangan kontolku di dalam vegynya.
Akupun mulai menambah kecepatan goyanganku Slepp…slepp…slepppp…oh…ahhh..ahhh oh…. aku dan Mbak Wualn mulai saling mendesah dan tak berapa lama dia kembali orgasme, namun reaksinya jauh berbeda dengan yang pertama. Dia mengerang dan mendesah tak karuan 

Ahhh….Uhghhh….ahhhchh …ohhh….. akupun menjadi bersemangat dan semakin mempercepat goyanganku lalu diapun terkulai tak berdaya di sambil bersandar pada bak mandi. Oh… Ton kamu jahat banget sih….. aku kan sudah keluar banyak, ko masih di goyang terus….aku jadi lemas nihh.
Akupun kembali memeluknya Maaf Mbak…. aku benar-benar terangsang dengan tubuhmu yang bahenol, jadi pinginnya goyang terusss…..Tapi enak kan Mbak..? Mbak Wulan tersenyum malu sambil mencubit perutku, Ton… kalo dari tadi aku tahu kamu pinter ngentot, nggak usah dipaksapun aku mau kamu entotin. Aku sangat kaget dengan pernyataanya ini, namun hal ini dibuktikan oleh dia. setelah tenaganya pulih dia tidak menolak kuajak ngentot lagi, namun dia minta pindah kedalam kamar tidur.
Masih dalam kondisi bugil aku keluar dari kamar mandi untuk mengambil HPku yang kuselipkan di atas lubang ventilasi lalu segera masuk ke dalamkamar Mbak Wulan. Sambil menunggu dia datang kulihat kembali rekaman tadi dan hasilnya cukup memuaskan, karena semua adegan itu terekam dengan baik. Setelah itu aku segera mencari tempat yang pas untuk merekam aksiku yang kedua, tak jauh dari kasur ada tumpukan kulihat pakaian, segera kuletakkan disana sehingga tersamar dengan baik.
Setelah Mbak Wulan masuk kamar akupun segera mencumbuinya, sengaja kuarahkan vaginanya menghadap kamera HP yang berada diantara tumpukan pakaian, sehingga aksi jari-jariku yang nakal di vagina Mbak Wulan terekam dengan baik. Setelah puas bercumbu kupun segera mengentotnya yang kuawali dengan posisi terlentang.

Bless….Sleppp tanpa kesulitan aku menancapkan torpedoku dan rasanya memang mantap…. clepp..cleppp..ahhh…ahhhh….ohh..ohhh. Hanya desahan dan suara tumbukan kelamin kami yang terdengar dan berbagai gaya dalam ngentot seperti dalam film bokep yang ku tonton aku coba, termasuk gaya Dogy favoritku. Sampai akhirnya aku puas dan mencapai orgasme 2 kali. Sedangkan Mbak Wulan terkapar sampai tertidur karena kelelahan. Bahkan saat kurekam tubuh bugilnya dari jarak dekat dia hanya diam saja.
Sejak saat itulah fantasi Sex yang aku inginkan selalu dapat ku praktekkan, aku menjadi sering mendownload film bokep dari barat dan kemudian aku coba lakukan dengan Mbak Wulan. Dia tak pernah menolak, kapanpun aku minta ngentot asalkan nggak sedang menstruasi dia akan datang. Karena kebetulan tempat kosku sangat aman maka aku tak pernah repot mencari tempat untuk ngentot.

Namun bila rumah Mbak Wulan sepi aku lebih suka ngentot dirumahnya karena aku bisa lebih bebas berekspresi di berbagai tempat, tidak cuma di atas kasur, bisa di dapur, di ruang tengah, di meja makan di kamar mandi, di tempat jemur pakaian DLL . Di rumahnya aku memiliki tempat favorit yaitu diatas kursi sofa di ruang tamu karena lebih santai dan penuh sensasi. Sampai saat ini aku terus melakukan perselingkuhan ini.